Berita > Seputar TKI
PMI Ini Didiagnosis Penyakit Komplikasi dalam Kondisi Hamil, Terlambat Sedikit Dua Nyawa Sekaligus Bisa Terancam
19 Aug 2020 17:05:04 WIB | Hanik Mundiroh | dibaca 538
Ket: PMI Ini Didiagnosis Penyakit Komplikasi dalam Kondisi Hamil, Terlambat Sedikit Dua Nyawa Sekaligus Bisa Terancam
Foto: Faisal Soh
Taipei, LiputanBMI - Seorang PMI asal Banyuwangi berinisial PS ( 35th ) terpaksa harus dirawat di RS karena oleh dokter didiagnosis selain dia hamil juga menderita penyakit komplikasi.

Berawal dari rasa mual dan sering muntah dalam dua bulan terakhir. PS yang berstatus Ilegal tidak berani memeriksakan dirinya ke RS karena takut ditangkap dan akhirnya dipulangkan.

"Saya memang sudah curiga dengan kondisi saya yang mulai memburuk dua bulan terakhir. Nafsu makan berkurang, sering muntah dan badan lemas, "jelas PS kepada Faisal Soh.

Selain takut ditangkap polisi, PS tidak berani ke RS karena waktu itu kondisi ekonominya masih susah. Ia mencoba terus menahan keadaannya, akan tetapi kondisi tubuhnya bukannya tambah membaik melainkan makin memburuk

"Saya belum berani untuk ke rumah sakit karena biayanya pasti mahal, dan kondisi ekonomi saya masih sangat sulit saat itu, "ungkapnya.

Sampai akhirnya, dalam 2 minggu terakhir, PS mulai tidak dapat mengkonsumsi makan dan minuman. Setiap habis makan atau minum ia langsung muntah badannya lemas.

Karena ketakutan sendiri, akhirnya PS menghubungi Faisal untuk meminta bantuan menyerahkan diri dan mendampinginya periksa ke RS.

Hari ini (19/8) Faisal mengantarkan PS ke imigrasi untuk menyerahkan diri kemudian membawa PS pergi ke salah satu RS di daerah Taoyuan.

Faisal mengatakan, hasil diagnosis menyatakan PS mengalami penyakit komplikasi kuningan, darah rendah, adanya pembatuan pada liver, dan kondisinya lagi hamil 10 minggu.

Dokter yang menangani PS mengatakan, ia bisa saja kehilangan nyawanya begitu juga janin yang dikandungnya jika terlambat sedikit ditangani. Kini PS diharuskan rawat inap untuk dilakukan penanganan lanjutan.

Perlu diketahui, PS datang ke Taiwan sebagai Pekerja Migran perawat pasien (Ama) pada tahun 2018 lalu. Baru bekerja satu bulan di majikan resminya, PS langsung kabur. Menurut pengakuan PS, ia memilih kabur selain karena terpengaruh ajakan teman, alasan lain karena Ama yang dijaganya terlalu berat untuk dibopong.

Sebagaimana kita tahu, apabila status Pekerja Migran sudah menjadi ilegal jika mengalami sakit akan ketakutan memeriksakan diri ke RS. Selain biayanya mahal karena sudah tidak mempunyai askes, otomatis akan ditangkap atau diserahkan ke imigrasi kemudian dipulangkan ke negara asal dan akan diblacklist.
(HNI, 19/08)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh