Berita > Seputar TKI
Karena Harus di Karantina, Suwarno Gagal Jenguk Catur Hingga Saatnya Harus Tinggalkan Taiwan
12 Mar 2020 20:49:48 WIB | Hani Tw | dibaca 4369
Ket: Karena Harus di Karantina, Ayah Catur Tidak Bisa Jenguk Hingga Saatnya Harus Tinggalkan Taiwan
Foto: TCESIA
Taipei, LiputanBMI - Jauh-jauh ayah Catur, Suwarno, didatangkan ke Taiwan supaya bisa menjenguk Catur yang sudah sebulan lebih terbaring di ruangan ICU dalam keadaan koma, namun harapan untuk bisa menjenguk Catur kandas karena paspornya dicap harus di Karantina dulu selama 14 hari.

Tetesan air mata Suwarno akhirnya jatuh juga setelah sekian lama tertahan. Kepada agensi Suwarno mengatakan kalau ia tidak bisa lagi melihat anaknya karena tanggal 12 Maret harus pulang ke Indonesia.

"Tanggal 12 besok (hari ini red.,) saya harus meninggalkan Taiwan, dan tidak mungkin lagi bisa melihat Catur, "ungkapnya dengan nada sedih.

Melihat keadaan Suwarno yang putus asa tidak berdaya, akhirnya agensi meminta izin kembali kepada pihak rumah sakit supaya ayahnya Catur diperbolehkan melihat anaknya sekali lagi sebelum meninggalkan Taiwan. Akan tetapi tetap tidak mendapatkan izin dan hanya diperbolehkan melihat kondisi Catur melalui video call.

Melalui video call, Suwarno dengan suara pelan berpesan kepada Catur supaya terus berjuang untuk bertahan hidup.

Suwarno yang melihat Catur seperti tertidur pulas tanpa ada gerakan sedikitpun, ia merasakan hatinya hancur dan patah semangat karena keterbatasan kemampuannya untuk bisa menyelamatkan Catur.

Sementara itu, untuk menindaklanjuti kasus dari Catur, Suwarno telah mewakilkannya kepada TCESIA dan NESA dengan menandatangani surat kuasa pada 5 Maret kemarin di kantor TCESIA Taoyuan.

Selain dari TCESIA dan NESA, Tzeng Chuan-Wei, juga mendapatkan bantuan dari seorang polisi Divisi Luar Negeri Kepolisian Cabang Taoyuan untuk menindaklanjuti pengajuan kompensasi dari yang menabrak.

Dalam kesempatan lain, ketua NESA, Hwang Gao-Jie mengatakan, apabila tidak ada bantuan dari kepolisian Taoyuan, kasus Catur kemungkinan akan terbengkalai meskipun sudah ada bantuan dari TCESIA dan NESA akan tetapi masih kurang lengkap.

Menurut Hwang Gao-Jie, kepolisian Shulin dimana Catur mengalami kecelakaan tidak banyak membantu. Sedangkan kondisi Catur masih dalam keadaan koma sehingga ia tidak mungkin bisa memperjuangkan apa yang harus menjadi haknya.

Lebih lanjut Hwang Gao-Jie menjelaskan, apabila kasus ini sudah lebih dari enam bulan maka tidak bisa lagi melakukan gugatan kepada yang menabrak untuk mempertanggung jawabkannya.
(HNI, 12/03)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh