Berita > Seputar TKI
Inilah Pengakuan Mahasiswa Ilegal di Taiwan
05 Mar 2019 21:27:14 WIB | Hani Tw | dibaca 1244
Ket: Mahasiswa dari Filipina tertipu oleh agen yang menjanjikan kuliah sambil magang
Foto: United Daily News
Taipei, LiputanBMI - Mahasiswa ilegal dari Filipina yang magang di Universitas Sains dan Teknologi Yu Da, Miaoli, Taiwan menangis karena impian mereka untuk mendapatkan gelas master tidak terwujud bahkan dipekerjakan bagai budak.

Universitas Sains dan Teknologi Yu Da, diduga kerjasama dengan agensi gelap merekrut mahasiswa lulusan universitas di Filipina untuk meneruskan belajar di Taiwan guna mendapatkan gelar master.

Sebagaimana dilansir United Daily News, Senin (4/3/2019), sesampainya di Taiwan calon mahasiswa tidak langsung bisa kuliah, tetapi dipaksa untuk menandatangani kontrak kerja ilegal secara rahasia.

Adapun jika mereka tidak mau menurut atau melakukan pelanggaran maka mereka diharuskan untuk keluar dari sekolah seolah-olah atas keinginan sendiri.

Calon mahasiswa yang baru datang ketika berada di asrama diminta untuk tandatangan persetujuan diatas dua buah buku perjanjian dan harus menerima jadwal kerja yang sudah diatur.

Apabila mereka tidak mau menerimanya atau bersikap buruk, maka tanpa alasan apapun mereka akan diberhentikan oleh majikan. Pada saat yang bersamaan perjanjian tersebut akan berakhir dan akan dikenakan denda sebesar USD 1.000 (sekitar NTD 32.000).

Kontrak kerja ilegal yang ditandatangani juga memiliki ketentuan rahasia. Jika mereka membocorkan konten yang tertera didalam kontrak kerja tersebut sekaligus jadwal kerja akan dikenakan denda sebesar NTD 500.000.

Seperti yang dialami oleh Raymark, pada semester pertama ia masih diam saja disuruh belajar sambil bekerja tanpa mengeluh, tetapi tubuhnya bukan kayu atau robot. Jam kerja yang tidak masuk akal membuat ia tidak dapat menopang daya tahan tubuhnya.

Selain itu ia juga sering mendapat penghinaan dari pengawas, maka dari itu ia memutuskan untuk berdiri memberanikan diri menuntut keadilan.

Raymark hanya mengharapkan dan meminta supaya agen mengembalikan uang yang dipakai untuk biaya masuk ke Taiwan, juga mengembalikan uang hasil potongan gaji yang tidak masuk akal, karena semua itu adalah hasil jerih payahnya.

Menurut Raymark, meskipun masih banyak mahasiswa ilegal memilih diam dan tidak ingin diekspos, ia percaya bahwa orang Taiwan masih jujur ​​dan disiplin, maka ia memilih untuk berdiri bangkit menuntut haknya.

Seperti diketahui, sekarang ini di Taiwan lagi marak job magang (kuliah red.,) sambil kerja. Banyak sekali yang telah menjadi korban, setelah masuk ke Taiwan mereka diterlantarkan atau dipekerjakan secara gelap di perkebunan maupun di peternakan dengan gaji yang tidak layak.
(HNI, 05/03)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh