Berita > Komunitas
Bersama Infest Yogyakarta, Komunitas Serantau Gelar Diskusi Publik ‘Sehat Bermedia Sosial’
04 Mar 2019 21:15:25 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 339
Ket: foto bersama peserta diskusi 'sehat bersosial media'
Foto: Komunitas Serantau
Kuala Lumpur, LiputanBMI - Komunitas Serantau Malaysia bekerja sama dengan Infest Yogyakarta menggelar diskusi publik ‘Sehat Bermedia Sosial’ di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Minggu (3/3/2019).

Selain dihadiri oleh para Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai komunitas di Malaysia, diskusi publik yang berlangsung mulai pukul 10.00 hingga pukul 12.00 siang itu juga dihadiri oleh perwakilam dari KBRI Kuala Lumpur.

Dalam diskusi tersebut, pegiat Infest Yogyakarta, Yudi Setiyadi mengatakan, penetrasi teknologi dan peningkatan jumlah pengguna internet yang begitu besar membawa tantangan tersendiri terutama bagi pengguna media sosial. Salah satu tantangannya adalah banyak pengguna media sosial yang tidak membangun kapasitas diri dalam bermedia sosial.

"Perkembangan teknologi yang sekarang masuk pada Revolusi Industri 4.0 membawa tantangan besar baik di Indonesia maupun dunia," kata Yudi.

Yudi menyebutkan, berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2017 tercatat ada 143 juta pengguna internet di Indonesia dari total jumlah penduduk sebanyak 262 juta jiwa. Jumlah yang paling banyak adalah pengguna media sosial.

Menurut Yudi, setiap orang yang menggunakan media sosial memiliki kepentingannya masing-masing. Bagi seorang pedagang, data pengguna internet tersebut merupakan pasar atau target marketing. Sementara dalam hubungannya pada bidang politik, angka tersebut merupakan basis massa untuk mendulang perolehan suara.

“Berbeda lagi dengan kelompok ekstremis radikal, angka tersebut merupakan sasaran penyebaran paham ekstremis radikal. Seperti informasi tentang jihad yang digunakan untuk menyebarkan doktrin-doktrin ekstremis radikal,” katanya.

Selain ekstremisme, kata Yudi, hal lain yang yang menjadi dampak negatif dari sosial media adalah porstitusi online. Dengan semakin berkembangnya berbagai aplikasi chatting dan kencan di media sosial, sejumlah aplikasi juga marak digunakan untuk prostitusi online.

Untuk itu, Yudi mengingatkan agar hati-hati dalam mengunggah foto di media sosial karena segala sesuatu yang diunggah di media sosial bersifat ‘bisa diunduh’. Bisa jadi, foto-foto di media sosial dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk hal negatif.

Sementara Sekretaris Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Kuala Lumpur, Soeharyo Tri Sasongko dalam paparannya menyampaikan, pengguna media sosial, khususnya PMI di Malaysia, perlu memahami undang-undang tentang penggunaan media sosial.

“Di Malaysia, pemerintah memiliki sistem untuk mengontrol perilaku pengguna media sosial terkait informasi tentang ekstremisme. Tidak hanya yang menyebarkan paham ektremisme, memberikan ‘likes’ pun sudah masuk dalam catatan sistem,” kata Soeharyo.

Oleh karena itu, kata Soeharyo, hal yang paling penting bagi pengguna media sosial saat ini adalah tentang pendidikan moral dan pengetahuan mengenai cara bermedia sosial yang sehat.

“Setiap negara memiliki undang-undangnya sendiri, jangan sampai karena terlalu meyakini berita-berita yang disebar di media sosial, kita menjadi begitu mudah untuk turut serta menyebarkannya,” jelas Soeharyo.

Aktivis Komunitas Serantau, Desi Lastati berharap diskusi publik seperti ini dapat memberikan info baru kapada para PMI di Malaysia , khususnya tentang bagaimana negara-negara di luar Indonesia merepon penyebaran paham ekstremisme di media sosial, juga tentang berita hoax yang bisa kita selidiki kebenarannya sebelum menyebarkan kepada yang lain.

“Semoga kawan-kawan PMI di Malaysia bisa ambil perhatian, bahwa hukum di Malaysia begitu ketat, apalagi jika menyangkut paham ekstremisme dan radikalisme, sehingga kita bisa lebih hati-hati dalam bermedia sosial,” harap Desi.

(FK, 04/03)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh