Berita > Seputar TKI
PMI di Singapura Gelar Nobar Film Inspiratif ‘SOUFRA’
05 Dec 2018 21:20:20 WIB | Figo Kurniawan | dibaca 289
Ket: PMI di singapura yang nobar film Soufra
Foto: Ummairoh
Singapura, LiputanBMI - Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Singapura yang tergabung dalam Indonesian Family Network (IFN) dan Pekerja Indonesia Singapura (PIS) menggelar nonton bareng (nobar) sebuah film dokumenter berjudul SOUFRA, Minggu (2/12/2018).

Acara nobar tersebut digelar di The Projector, Golden Mile Tower, Singapura atas kerjasama antara IFN dan PIS dengan Task Force Migrant Workers, Indonesian Diaspora Network-United (TFMW IDN-U).

Sekitar 50 orang yang terdiri dari para Pekerja Rumah Tangga (PRT) asal Indonesia dan masyarakat lainnya memenuhi ruang bioskop The Projector.

Film dokumenter yang disutradarai oleh Thomas A Morgan ini berkisah tentang Mariam Shaar, seorang wirausaha sosial (social entrepreneur) yang penuh inspiratif.

Perempuan berusia 69 tahun itu membuka usaha dan memperdayakan perempuan lainnya untuk bangkit melawan kehidupan yang sangat menantang sebagai pengungsi di kamp Burj El Barajneh yang terletak di selatan Beirut, Lebanon.

Kehidupan di tempat pengungsian tentunya merupakan kendala yang cukup besar untuk melakukan pemberdayaan terhadap kaum perempuan. Selain soal impitan ekonomi, upaya menembus perizinan untuk membuka usaha juga menjadi sebuah kendala, mengingat status mereka sebagai pengungsi.

Namun, berkat perjuangan tanpa lelah akhirnya keberhasilan itu bisa diraihnya dan sedikit demi sedikit telah mengubah kehidupan perekonomian keluarga para perempuan di sana.

Bersama perempuan pengungsi lainnya yang berasal dari Irak, Suriah, Palestina, dan Lebanon, Mariam merintis usaha catering Soufra dan kemudian mengembangkannya menjadi usaha food truck. Soufra sendiri artinya meja tempat berbagai penganan lezat.

“SOUFRA merupakan sebuah film dokumenter yang bagus. Bisa dijadikan sebagai inspirasi untuk PMI karena menceritakan tentang perjuangan seorang perempuan pengungsi Palestina di Lebanon. Meski tinggal di sebuah kamp, wanita itu gigih dan pantang menyerah dalam memperjuangkan nasib keluarga serta nasib teman-temannya yang tinggal di kamp," tutur pendiri PIS, Rini.

Sementara menurut Ketua IFN, Rohimah, film dokumenter ini sangat menarik karena sosok perempuan Mariam Shaar merupakan cerminan seorang leader yang mampu mengindentifikasi sumber daya manusia di sekitarnya dan menjadikannya sebagai pelaku bisnis.

“Kesabaran dan perjuangan gigih tidak akan pernah sia-sia. Saya berharap pekerja (migran) perempuan mau melakukan hal yang sama ketika pulang ke kampung halaman nanti,” katanya.

Ummai Ummairoh dari TFMW IDN-U berharap, film dokumenter ini mampu memberikan inspirasi dan motivasi pekerja migran, khususnya pekerja migran perempuan.

“Semoga film ini bisa memberikan inspirasi dan motivasi kepada kita, pekerja migran khususnya pekerja perempuan untuk memulai sesuatu yang baru,” harap Ummairoh.
(FK, 05/12)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh