Berita > Seputar TKI
Tak Mau Pulangkan Pekerjanya, Ini yang Dilakukan KJRI Jeddah ke Majikan
13 Mar 2018 19:51:44 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 2121
Ket: Wawas (kiri baju hitam) bersama Konjen Hery (tengah baju puti ) dan ST Naker M. Yusuf
Foto: KJRI Jeddah
Jeddah, LiputanBMI - Umumnya kasus yang menimpa Pekerja Migran Indonesia (PMI) menyangkut gaji tidak dibayar atau telat dibayar, hilang kontak dengan keluarga, penganiayaan oleh pengguna jasa. Namun belakangan ini, pasca penghentian total pengiriman PMI untuk sektor domestik ke Arab Saudi, marak kasus kesulitan pulang bagi PMI ke tanah air setelah masa kontraknya berakhir.

Seperti kasus yang dialami Wawas Anulas Sari binti Kandeg. Terhitung tujuh tahun lamanya PMI asal Indramayu Jawa Barat ini bekerja pada sebuah keluarga di Jeddah ,Arab Saudi. Selama itu pula dia tidak pernah menengok keluarganya di kampung halaman, meski masa kontraknya telah habis.

Sesuai perjanjian yang tertuang di kontrak, PMI berhak mengambil cuti dan pulang ke kampung halamannya setelah menjalani masa kontraknya.

Perempuan berusia 25 tahun ini telah berkali-kali berusaha berpamitan kepada majikannya agar bisa pulang, menjenguk keluarganya di kampung halaman. Tapi ia hanya dijanjikan dan diundur-undur dengan dalih menunggu penggantinya.

“Udah ambil pembantu dari Vietnam, udah satu tahun. Kenapa saya gak boleh pulang, karena megang (jaga) majikan laki-laki dulu, karena lagi sakit,” turur Wawas setibanya di rumah singgah sementara (shelter) KJRI Jeddah, sebagaimana keterangan tertulis yang diterima LiputanBMI, Selasa (13/8).

Wawas, sapaan akrab perempuan beranak satu ini, telah bilang ke majikan berkali-kali bahwa dirinya ingin pulang ke Indonesia karena anaknya yang ia tinggal sejak usia tiga tahun silam sakit-sakitan. Anaknya kini, imbuh dia, sudah menginjak usia 10 tahun dan tinggal dengan suaminya di Jakarta.

Dia sendiri mengaku tidak tahu harus bagaimana dan melapor ke mana. Sampai suatu hari masuklah sebuah pesan singkat ke telepon seluler Konsul Jenderal RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin, dari salah satu LSM di Indramayu yang berisi pengaduan dari keluarga Wawas.

Pesan tersebut segera diteruskan kepada Staf Teknis Tenaga Kerja (ST Naker) KJRI Jeddah, Mochamad Yusuf. Bersama timnya, ST Naker bergerak melacak keberadaan Wawas yang belakangan terdeteksi tinggal di Tahlia, daerah yang tidak jauh dari kantor Konsulat Jededal RI (KJRI) Jeddah.

“Saya telepon langsung dia sama pak Suryadi. Saya dapat informasi telepon majikannya. Waktu saya telepon ternyata dia (Wawas) yang ngangkat. Kami menyiapkan beberapa opsi untuk mengeluarkan dia dari rumah majikan," tutur Yusuf.
Yusuf menambahkan bahwa dirinya bersama tim tidak bisa langsung masuk ke rumah majikan, karena tindakan di Arab Saudi itu dianggap pelanggaran hukum bila dilakukan.

"Kami mencoba mendekati rumah majikan dan minta Wawas keluar rumah. Karena terlalu banyak orang lalu-lalang di sekitar rumah itu (majikan). Terlalu riskan. Akhirnya, kami menjauh dan minta Wawas keluar rumah naik taksi," ungkap pejabat bagian tenaga kerja KJRI Jeddah yang belakangan getol memburu pengguna jasa yang melanggar perjanjian kerja.

Berbekal uang 50 riyal, sekitar pukul 10:00 waktu arab Saudi, Wawas akhirnya meninggalkan rumah majikannya saat mereka dalam keadaan tidur.

Di hari yang sama, ST Naker ini memanggil majikan Wawas untuk datang ke KJRI Jeddah. Datanglah anak laki-laki majikan yang mewakili, pasalnya sang ayah (majikan Wawas) sudah sakit-sakitan setahun belakangan ini.

“Majikan baik, cuma mau pulang aja gak dipulangin. Majikan saya gak kerja lagi sakit. Udah satu tahun,” ujar Wawas.

ST Naker berbicara secara kekeluargaan dan pihak majikan menyanggupi akan memulangkan Wawas dalam tempo dua minggu. Selain itu, majikan diminta bikin ta'ahud (surat perjanjian) dan surat pernyataan bahwa memang gajinya telah dibayarkan semua.

Menurut Wawas, majikan dan keluarga majikan cukup baik dan gajinya lancar dan bahkan dinaikkan. Namun, dia hanya ingin pulang karena kangen sama anak semata wayangnya yang ia tinggalkan bersama suaminya tujuh tahun silam.
“Saya tuh kangen sama anak saya. Mama pulangnya kapan. Saya udah kangen mau lihat mama,” tutur Wawas menirukan ucapan anaknya.

“Anak saya tuh sampe sekarang tidak tahu muka saya,” imbuh dia.

Saat melepas keberangkatan Wawas, Konjen didampingi Staf Teknis Tenaga Kerja Mochammad Yusuf, berpesan agar Wawas memanfaatkan hasil jerih payahnya selama bekerja di Arab Saudi dengan sebaik-baiknya.

"Seberapa besarnya uang itu kalau hanya untuk belanja, pasti cepat habis. Manfaatkan sebagai modal usaha. Buka warung untuk jualan atau apa saja yang bisa menghasilkan," pesan Konjen.

Saat ditanya mengenai reaksi majikan karena Wawas harus dipulangkan, Yusuf menuturkan bahwa sang majikan tetap menerima meski berberat hati.

"Dia (majikan) sudah pasti kecewa, karena pembantu sekarang di Arab Saudi sudah menjadi barang langka. Susah mendapatkan penggatinya," ungkapnya.

Wawas Anulas Sari BT Kandeg, anak pertama dari tiga bersadara ini, berangkat ke Arab Saudi pada tahun 2011 dan bekerja di Jeddah. Gajinya sebagian besar telah dikirimkan melalui anak majikannya dan sesuai pengakuan dia telah diterima oleh pihak keluarga di kampung halamannya untuk membeli beberapa bidang tanah.

Perempuan yang usianya dibuat tua usianya di paspor saat berangkat ke Arab Saudi ini dipulangkan ke tanah air hari ini, Selasa, 13 Maret 2018.

(IYD, 13/03)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh