Berita > Ekosospol
Purna TKI yang Jadi Guide Turis Arab Keluhkan Dukungan Pemerintah
29 Nov 2017 08:24:15 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 1634
Ket: Purna TKI jadi Guide Turis Arab
Foto: Eko
Cianjur, LiputanBMI - Menguasi bahasa dan memahami karakter bangsa Arab adalah satu kelebihan yang dimiliki purna TKI. Maka tak heran bila kalangan pemandu wisata turis Arab mayoritasnya adalah purna TKI yang pernah bekerja sebagai sopir perumahan di Arab Saudi.

Salah satunya Eko Yulianto (40), pria yang pernah bekerja selama dua tahun di Jeddah, Arab Saudi profesinya saat ini menjadi guide di kota bunga, Cianjur. Menurutnya, pesona alam Indonesia mampu memikat wisatawan manca negara tak terkecuali Jazirah Arab.

"Tujuan favorit orang Arab adalah puncak pegunungan yang ada di Jawa Barat, namun saya dan kawan-kawan selalu menawarkan ke tempat wisata lainnya yang ada di luar Jawa," tutur Eko kepada LiputanBMI melalui sambungan seluler, Senin (28/11).

Sebagai mantan TKI, lanjut kata Eko, dirinya mampu memberikan pelayanan yang baik karena memahami karakter dan budaya bangsa Arab. Bahkan para wisatawan akan menjadi pelanggan tetap dan merekomendasikan untuk memandu keluarganya jika berkunjung ke Indonesia.

"Kunci pelayanan saya adalah sabar dan amanah, beritahu tamu tentang perbedaan budaya dan hal-hal yang seharusnya mereka hindari. Contoh mereka rata-rata jika berbicara seperti orang marah, padahal memang karakter mereka seperti itu," terangnya.

Tidak hanya mantan sopir, pria asal Brebes itu mengungkapkan banyak juga mantan PRT Timur Tengah yang mendapatkan peluang kerja diantaranya sebagai juru masak. Besaran upah mereka akan ditentukan sesuai dengan perjanjian.

"Pemandu turis arab 80 persen purna TKI, dan jumlah pemandu wisata Timur Tengah yang ada di Jakarta, Bogor, Cianjur dan Bandung sekitar 2000 orang, belum termasuk purna penata laksana rumah tangga," ungkapnya.

Kendati demikian, pekerjaan yang sudah dilakoninya selama empat tahun itu tidaklah semudah yang dibayangkan. Terutama akses masuk Bandara.

"Masalah kami di Airport , sering teman-teman gagal jemput karena dianggap ilegal atau taksi gelap. Padahal kami jemput tamu yang sudah berulangkali datang dan sudah melakukan perjanjian jauh-jauh hari dengan tamu." keluhnya.

"Soal penjemputan di Bandara kami sudah membekali dengan surat jalan yang dilengkapi lembaran tiket atas nama tamu dan daftar tamu. Jadi kami keberatan jika disebut taksi ilegal karena kami melakukan penjemputan tamu yang sudah kami kenal," sambungnya.

Eko menganggap pemerintah gagal mengimplementasikan kampanye Wonderfull Indonesia. Bahkan katanya, pemerintah perlu memperbaiki Infrastruktur sarana dan prasarana penunjang wisata, ketertiban keindahan dan keamanan lingkungan di sekitar tempat tinggal turis.

"Pesan saya ke pemerintah agar membantu purna TKI yang bekerja secara mandiri dan menjadi ujung tombak promosi wisata Indonesia ke Timur Tengah," pungkasnya.
(IYD, 29/11)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh