Berita > Sosok
Dulu TKI dan Pernah Diusir, Priyanti Kini Jadi Kades Membangun Desa
22 Nov 2017 17:53:32 WIB | Iyad Wirayuda | dibaca 10167
Ket: Kades Priyanti
Foto: document fb
Nasional, LiputanBMI - Kesabaran adalah kunci menghadapi segala ujian hidup yang datang menerpa. Maka Allah akan memberikan balasan pahala, rahmat dan kedudukan yang tinggi bagi hamba-Nya yang sabar.

Hal itulah yang dijalani Priyanti saat menghadapi kesulitan ekonomi di tahun 2008. Mempunyai suami yang malas bekerja membuat Priyanti memberanikan diri untuk berangkat ke SIngapura sebagai TKI.

"Saat itu ekonomi sedang pailit dan suami tipe orang pemalas membuat saya nekat bekerja ke luar negeri," tuturnya mengawali pembicaraan dengan LiputanBMI, Selasa (21/11).

Menjadi pekerja rumah tangga (PRT) dia lakoni untuk masa depan kedua anaknya yang lebih cerah. Saat ditinggalkan,anak pertamanya berusia 4 tahun dan yang nomor dua masih 4.5 bulan.

Mom Mery adalah wanita kaya raya baik hati membuat Priyanti merasa kerasan. Bahkan majikannya itu juga sempat berencana mengajak kedua anak Priyanti bersekolah di Singapura.

Namun kebahagiaan itu hanya berselang enam bulan, Mom Mery yang mempunyai tujuh PRT itu secara mendadak berubah perangai dan mengembalilkan Priyanti ke agen. Priyanti menduga Mom Mery terhasut dengan PRT lainnya karena kecemburuan sosial. Priyanti pun lantas dipulangkan ke Batam.

"Akhirnya agen membantu memulangkan saya lewat Batam naik kapal laut. Di Batam saya gak kenal siapa-siapa, sedih banget," kenang Priyanti.

Wanita kelahiran 30 Oktober 1977 itu pun melakoni penderitaan selama dua minggu di Batam lantas kembali lagi ke Singapura.

"Alhamdulilah bos saya yang kedua ini baik sekali, mereka memahami saya muslim. Saya pun bekerja selama empat tahun di majikan ini," terangnya.

Selesai menjalani kontrak pertama, Priyanti pulang ke Indonesia dan mengurus perceraian dengan suaminya. Hasil kerjanya selama empat tahun habis untuk membayar hutang sang suami.

Sepulangnya dari Singapura pada tahun 2012, perempuan lulusan SMA 1 Temon itu pun berjualan makanan membantu ibunya di Pasar.

Pada September 2013 terdapat pemilihan kepala desa di Desa Gripeni, Kecamatan Wetes, Kabupaten Kulonprogo. Wanita yang pernah mengenyam pendidikan diploma 2 itu pun diajukan masyarakat untuk maju dalam pilkades melawan empat calon lainnya.

"Waktu itu saya menolak karena status saya janda. Kemudian tokoh masyarakat mendatangi Bapak agar saya maju pilkades," ungkapnya.

Bukan hal mudah untuk Apri, sapaan akrab Priyanti, bersaing berebut kursi Kades dengan empat pesaing yang kesemuannya adalah laki-laki. Cemoohan mantan TKI bertato dan janda pun sempat dialamatkan kepada dirinya.

"Padahal saya tidak bertato, pokonya segala tuduhan komplit saya terima. Tapi Alhamdulillah saya terpilih dengan selisih 216 suara dengan calon nomor dua," ujarnya.

Jabatan kepala desa pun kini melekat di pundak Priyanti yang terkenal dengan lurah galak. Akan tetapi ketegasan yang dilakukan Priyanti adalah mengajak warganya untuk mandiri dan mencintai desa dengan slogan yang dibuatnya yaitu "Golong Gilig Giripeni" yang artinya bundar bersatunya rakyat dengan pemimpin.

Pada tahun 2016 Priyanti pun mendapatkan jodoh dan menikah dengan Made Arsa Wijaya, SH. Setelah mempunyai pendamping hidup membuat Priyanti lebih teguh dalam menjalankan amanah masyarakat.

Pengalamannya sebagai mantan TKI mengharuskan setiap warganya yang akan bekerja ke luar negeri harus menghadap Priyanti untuk menerima wejangan darinya.

"Saat ada warga yang minta pengantar bekerja ke luar negeri harus menghadap saya dulu , di situ saya selalu berpesan carilah duit di sana setelah itu pulang dan bangunlah usaha di desamu," imbuhnya.

Sesuai dengan UU Desa Nomor 6 tahun 2014, Priyanti akan memimpin Desa Gripeni hingga 2020 mendatang. Ia pun bercita-cita membangun supermarket desa.

"Saya ingin membangun supermarket yang isinya dari produk-produk lokal desa kami," pungkasnya.
(IYD, 22/11)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh