Berita > Sosok
Etty Deallova, TKI dengan Segudang Prestasi, Kuliah Pun Sembunyi-Sembunyi
03 Nov 2017 13:46:44 WIB | Redaksi | dibaca 3641
Ket: Etty Dealova
Foto: LBMI
Taipei, LiputanBMI - Menjadi tenaga kerja wanita di sektor informal dengan jam kerja tidak menentu dan kesibukan yang seolah tidak pernah ada habisnya tentu tidak mudah untuk dapat menyalurkan hobi. Apalagi mengembangkan bakat.

Hal itu dialami juga oleh perempuan penyuka kopi bernama pena Etty Deallova, seorang BMI Taiwan asal Way Jepara, Lampung Timur.

Ia harus rela mengurangi waktu tidur dan pandai membagi waktu di sela istirahat kerja untuk dapat menyalurkan hobi menulisnya yang sudah dimiliki sejak kecil.

Menerbitkan Buku Kumcer Pertama

Setelah bergabung selama setahun dengan salah satu komunitas kepenulisan dan meraih juara kedua dalam komunitas itu dari cabang Surabaya, akhirnya wanita pecinta warna biru ini memberanikan diri menerbitkan sebuah buku kumpulan cerpen karyanya berjudul ‘Wanita di Balik Badai’ pada tahun 2015.

Selepas menerbitkan buku kumpulan cerpen, Etty yang memiliki nama asli Etik Nurhalimah ini tidak lantas berpuas diri. Kemampuannya terus diasah dengan menjadi kontributor salah satu media di Taiwan.

Demikian pula dengan pendidikan formalnya. Tanpa sepengetahuan majikannya, secara diam-diam Etty melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka di Taiwan dengan mengambil jurusan Bahasa Inggris Minat Penerjemah.

Tiga semester sudah Etty belajar secara sembunyi-sembunyi. Begitu pula saat ujian tiba, Etty meminta izin libur dengan berpura-pura ada kepentingan yang tidak dapat ditangguhkan. Ibu satu anak ini berharap suatu hari nanti berani berterus terang kepada majikan tentang sekolahnya.

Terus Mengukir Prestasi di 2017

‘Hasil tak mendustai usaha.’ Begitu moto Etty. Tak tanggung-tanggung, tahun 2017 ini beberapa piagam perhargaan di bidang kepenulisan dan fotografi diraihnya.

Juara favorit lomba menulis Taiwan Literature Award for Migrant 2017, juara ketiga lomba menulis di Bilik Sastra Voice of Indonesia RRI, juara ketiga (fotografi) di GWO Taiwan (Global Workers’ Organization Taiwan) 2017, juara ketiga (fotografi) di PPI Taiwan, dan juara favorit (fotografi) di Hello Taipei 2017.

Etty bersyukur atas anugerah yang diberikan Allah kepadanya, sehingga dapat meraih prestasi. Ia juga berterima kasih kepada orang tua, anak, dan keluarga yang selalu memberi dukungan padanya.

Pada tahun 2018 nanti, Etty berharap dapat kembali menerbitkan buku serta terus belajar kepenulisan. Ia juga berharap dapat terus melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar sarjana. Selain itu, ia ingin belajar lebih dalam tentang fotografi agar prestasinya dapat meningkat.

Tidak mudah memang menurutnya, karena ia bekerja menjaga lansia yang kini berusia 96 tahun. Hingga saat ini, enam tahun sudah Etty setia bekerja merawat seorang nenek seperti merawat orang tua sendiri.

Etty berpesan kepada para BMI, khususnya yang berada di Taiwan agar memanfaatkan hari libur dengan hal positif.

“Buat rekan-rekan seluruh BMI di Taiwan, gunakanlah waktu libur Anda sebaik mungkin, pelajari dan dalami ilmu ataupun hobi positif yang Anda gemari. Temukan passion, gali, dan kembangkan. Insya Allah semuanya akan berguna jika kelak kita kembali ke Indonesia,” katanya. ( Ryan Ferdian)

(RED, 03/11)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh