Berita > Kesehatan
Proses Basma Mental? Inilah Kemungkinan Penyebabnya
18 Apr 2017 01:34:46 WIB | Tatang Muhtar | dibaca 7682
Ket: Ilustrasi sidik jari (basmah)
Foto: Portal Kita/Google
Riyadh, LiputanBMI - Ada teman yang ikut amnesti tapi basmanya mental di Jawazat! Akhir-akhir ini ungkapan tersebut sering ditemukan dalam obrolan warung ataupun komentar di media sosial.

Pemilihan kata mental, sebetulnya tidaklah tepat. Istilah yang benar adalah tidak terbaca oleh sistem. Lalu apakah penyebab sidik jari (basma) tidak terbaca?

Berikut beberapa penyebab yang berhasil kami himpun baik dari artikel yang tersebar di dunia maya maupun berdasar pengalaman sendiri.

Secara umum penyebabnya ada dua, yaitu faktor alat dan faktor objek (kontur sidik jari).

Faktor Alat

1. Identifikasi sensor yang lambat bisa saja menjadi penyebab sidik jari tidak terbaca, faktor yang paling memungkinkan adalah bila kapasitas sudah mulai penuh, dan apabila dibiarkan maka bukan tidak mungkin mesin akan hang alias macet, petugas akan bilang "system down".

2. Keadaan permukaan sensor yang kotor dan tergores adalah faktor yang paling sering terjadi, sebaiknya bersihkan debu atau kotoran pada scanner, dan apabila scanner tergores maka kaca permukaan harus diganti.

3. Software mengalami kerusakan, hal ini boleh dibilang sangat kecil kemungkinannya. Namun faktor virus bisa saja merusak sisitem operasi komputer yang dipakai untuk melakukan scanning.

4. Jaringan, setelah pemindaian berhasil, komputer lokal akan mengirimkan request data ke server database di pusat Imigrasi (Jawazat) untuk proses pencarian dan pencocokan data. Jika jaringan terkendala maka request yang dikirimkan tidak dapat diproses.

5. Server dan Pusat data, semua data kependudukan disimpan dalam sebuah super komputer yang berkapasitas besar dan cepat dalam memproses informasi. Jika server dan Pusat Data mengalami gangguan maka seluruh komputer yang terhubung tidak dapat mengakses data, proses basma pun tidak dapat dilanjutkan.

Faktor Objek

1. Kulit atau sidik jari yang pecah bisa merusak pola unik dari sidik jari, dan pola celah juga bisa rusak karena adanya peradangan kulit yang disebabkan oleh alergi. Hal ini bisa disebabkan karena tangan seirng tekena detergent (sabun) atau pemutih atau karena faktor pekerjaan lainnya.

2. Kulit yang tipis, ini bisa mempersulit proses identifikasi yang dilakukan oleh scanner, penyebab kulit tipis sendiri biasanya dikarenakan oleh faktor genetika.

3. Jari yang berkeringat atau basah akan menghalangi scanner untuk mengidentifikasi.

4. Penempatan jari tidak tepat, maka proses identifikasi bisa gagal dikarenakan scanner tidak mendapatkan seluruh ciri-ciri unik dari sidik jari tangan.

5. Dermatitis yang menyebabkan kulit kering, telapak kering empat kali lebih sulit diverifikasi sidik jarinya melalui pemindai. Dermatitis juga dapat menyebabkan timbulnya garis putih abnormal pada ujung jari yang mengacaukan pola sidik jari.


(TTG, 18/04)
BRI KSA
Universitas Terbuka Riyadh